6 Kesalahan Intermittent Fasting bagi Pemula dan Solusinya

6 Kesalahan Intermittent Fasting bagi Pemula dan Solusinya

Pernahkah kamu mencoba intermittent fasting dan merasa badan lemas atau mood naik-turun? Banyak pemula mengira IF hanya soal menahan lapar, padahal ada kesalahan yang bisa membuat puasa berdampak negatif.

Artikel ini membahas kesalahan intermittent fasting yang sering dilakukan pemula saat menjalani intermittent fasting dan bagaimana cara mengatasinya. Dengan strategi yang tepat, kamu bisa menjalani IF lebih aman dan efektif.

6 Kesalahan Intermittent Fasting bagi Pemula dan Solusinya

Cara Kerja Intermittent Fasting dalam Tubuh

Intermittent fasting atau IF adalah pola makan yang menekankan kapan kamu makan, bukan apa yang kamu makan. Pola ini membagi waktu antara periode puasa dan periode makan, seperti metode 16:8 atau 5:2 yang sering digunakan pemula.

Saat berpuasa, tubuh melakukan penyesuaian secara biologis. Kadar insulin menurun sehingga pembakaran lemak lebih efisien, sementara hormon lapar mulai menyesuaikan agar rasa lapar lebih terkontrol.

Pada fase awal, pemula bisa merasakan energi menurun, pusing, atau mood yang tidak stabil karena tubuh belum terbiasa. Dengan memahami mekanisme ini, kamu dapat menyesuaikan durasi puasa, jadwal makan, dan pilihan makanan agar tetap bertenaga.

Respons tubuh terhadap IF berbeda antara pemula dan yang sudah terbiasa. Semakin baik adaptasi tubuh, semakin stabil energi dan semakin kecil risiko efek samping, sehingga IF bisa dijalani dengan aman dan optimal.

Baca juga: Apa Itu Intermittent Fasting? Pola Diet Viral Anti Gagal

6 Kesalahan Intermittent Fasting bagi Pemula

1. Terlalu Lama Berpuasa di Awal

Kesalahan intermittent fasting paling umum adalah pemula langsung mencoba puasa 20 jam atau lebih tanpa persiapan. Tubuh yang belum adaptif mudah mengalami pusing, lemas, dan penurunan energi.

Saat tubuh dipaksa berpuasa terlalu lama, metabolisme bisa kaget dan stres meningkat. Kondisi ini membuat puasa terasa berat dan sulit dipertahankan.

Durasi puasa sebaiknya dimulai secara realistis, misalnya 12–14 jam. Setelah tubuh mulai terbiasa, durasi bisa ditingkatkan bertahap agar adaptasi lebih nyaman.

2. Asupan Nutrisi Tidak Seimbang

Sebagian pemula mengira saat berbuka bisa makan apa saja tanpa memperhatikan kandungan gizi. Pola ini sering membuat tubuh kekurangan protein, vitamin, dan mineral penting.

Kekurangan nutrisi menyebabkan tubuh cepat lelah dan sulit fokus. Dalam jangka panjang, metabolisme juga bisa terganggu dan hasil puasa kurang optimal.

Kualitas makanan saat sahur dan berbuka berperan besar dalam menjaga energi. Asupan bergizi seimbang membantu tubuh pulih dan tetap bertenaga selama puasa.

3. Kurang Asupan Cairan

Puasa sering disalahartikan sebagai alasan untuk minum lebih sedikit. Padahal kekurangan cairan bisa menyebabkan sakit kepala dan konsentrasi menurun.

Dehidrasi juga dapat memicu gangguan pencernaan dan membuat tubuh terasa lemas. Kondisi ini sering membuat pemula merasa tidak nyaman saat IF.

Memenuhi kebutuhan cairan sangat penting agar tubuh tetap berfungsi optimal. Minum air putih secara cukup dan tambahkan elektrolit bila perlu untuk mencegah dehidrasi.

Baca juga: Jadwal Diet Intermittent Fasting Agar Efektif Turun Berat

4. Pola Makan Berlebihan Saat Buka Puasa

Rasa lapar berlebihan sering membuat pemula makan terlalu banyak saat berbuka. Konsumsi makanan tinggi gula dan lemak menjadi pilihan yang sering terjadi.

Kebiasaan ini dapat memicu gangguan pencernaan dan kenaikan berat badan. Alih-alih membaik, kondisi tubuh justru terasa semakin berat setelah makan.

Mengatur porsi makan membantu tubuh mencerna makanan dengan lebih baik. Pilih kombinasi karbohidrat kompleks, protein, dan sayuran agar berbuka tetap sehat.

5. Tetap Berlatih dengan Intensitas Tinggi

Sebagian orang tetap memaksakan olahraga berat saat perut kosong. Hal ini membuat tubuh cepat lelah dan kehilangan tenaga.

Risiko cedera dan penurunan performa juga menjadi lebih tinggi. Tubuh yang kekurangan energi sulit beradaptasi dengan latihan intens.

Latihan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi tubuh saat puasa. Aktivitas ringan hingga sedang seperti jalan santai atau yoga lebih aman dan efektif.

6. Kurang Waktu Istirahat

Kurang tidur sering dianggap sepele saat menjalani intermittent fasting. Padahal kondisi ini dapat meningkatkan rasa lapar dan keinginan makan berlebih.

Ketidakseimbangan hormon akibat kurang istirahat membuat puasa terasa lebih berat. Energi harian pun menjadi tidak stabil.

Tidur cukup membantu tubuh beradaptasi dengan pola IF. Istirahat yang berkualitas juga mendukung pemulihan dan menjaga energi tetap stabil.

Baca juga: 7 Tips Ampuh Cara Menghilangkan Lemak di Perut Secara Alami

Solusi Menjalani Intermittent Fasting dengan Benar

1. Mulai dengan Pola Puasa Bertahap

Sebaiknya kamu memulai intermittent fasting dari durasi puasa yang ringan, misalnya 12–14 jam. Cara ini membantu tubuh beradaptasi tanpa memicu pusing, lemas, atau stres berlebihan.

Setelah tubuh terasa lebih nyaman, durasi puasa bisa ditingkatkan secara perlahan. Pendekatan bertahap membuat IF lebih konsisten dan aman untuk jangka panjang.

2. Menjaga Kualitas dan Porsi Makanan

Pemilihan makanan saat sahur dan berbuka sangat menentukan hasil intermittent fasting. Makanan bergizi seimbang membantu menjaga energi dan mendukung metabolisme tubuh.

Kombinasikan protein, karbohidrat kompleks, serat, vitamin, dan mineral dalam porsi yang sesuai. Porsi yang tepat membuat pencernaan lebih nyaman dan membantu mengontrol berat badan.

3. Cukupi Kebutuhan Cairan dan Elektrolit

Asupan cairan yang cukup selama puasa berperan penting dalam mencegah dehidrasi. Tubuh yang kekurangan cairan cenderung mudah lelah dan sulit fokus.

Kamu bisa menambahkan elektrolit, teh herbal, atau air lemon sebagai variasi minuman. Hidrasi yang baik membuat puasa terasa lebih ringan dan produktif.

4. Menyesuaikan Jadwal Latihan

Olahraga tetap bisa dilakukan saat menjalani intermittent fasting dengan penyesuaian yang tepat. Latihan ringan hingga sedang lebih aman dilakukan saat perut kosong atau setelah berbuka.

Menyesuaikan waktu dan intensitas latihan membantu menjaga performa tubuh. Cara ini juga mengurangi risiko cedera dan kelelahan berlebihan.

5. Prioritaskan Tidur dan Recovery

Tidur cukup memiliki peran besar dalam keberhasilan intermittent fasting. Waktu istirahat yang baik membantu mengatur hormon dan menekan rasa lapar berlebihan.

Usahakan tidur 7–8 jam setiap malam agar tubuh dapat pulih secara optimal. Recovery yang baik membuat adaptasi tubuh terhadap IF berjalan lebih lancar.

Banner promosi SVRG Clearance Sale menampilkan berbagai produk olahraga seperti treadmill, raket padel, bola, kaus, dan aksesoris fitness.

Hindari Kesalahan Intermittent Fasting dan Ikuti Tips dari SVRG

Keberhasilan intermittent fasting sangat bergantung pada pemahaman tubuh, kualitas makanan, hidrasi, serta keseimbangan gaya hidup agar tidak mengulang kesalahan intermittent fasting yang sama. Puasa yang dilakukan bertahap, didukung nutrisi seimbang, olahraga sesuai kemampuan, dan tidur cukup akan membuat IF lebih aman dan efektif.

Untuk membantu kamu menjalani intermittent fasting dengan lebih terarah, SVRG menyediakan berbagai artikel Diet Sehat untuk Pemula & Makanan Protein Tinggi. Kamu bisa menemukan rekomendasi produk, alat, dan solusi pendukung yang dirancang untuk menjaga energi dan fokus selama puasa.

Kombinasikan IF-mu dengan olahraga yang tepat. Jelajahi koleksi perlengkapan olahraga terbaik SVRG yang mendukung tubuh tetap bugar dan energi harian stabil. Mulai sekarang, jadikan IF bagian dari rutinitas sehatmu sambil tetap menikmati aktivitas sehari-hari dengan energi optimal.