Kamu capek naik gunung, tapi begitu masuk tenda malah nggak bisa tidur. Badan pegal, lantai terasa keras, udara dingin nyusup dari bawah, kamu bolak-balik posisi sampai akhirnya ketiduran sebentar. lalu bangun dengan badan tambah remuk dan kepala berat.
Besoknya? Bukannya fresh, kamu justru mulai trekking dengan tubuh yang belum pulih seutuhnya. Proses summit attack pun akan terganggu, selain cepat lelah kamu jadi gampang emosi & mood gak stabil.
Faktor utamanya ada pada alas yang kamu gunakan. Karena matras bukan cuma alas tidur di tenda aja, fungsi utamanya menjaga tubuh dari dingin tanah dan bantu kualitas tidur. Tidur yang buruk itu efeknya nyata. Kalau gak mau hal naas ini kejadian sama kamu, baca artikel ini sampai habis biar paham cara pilih matras yang murah tapi fungsional.
Jenis Matras Gunung & Kelebihan - Kekurangannya

1. Matras Cacing
Matras gulung busa (sering disebut matras cacing) adalah pilihan paling umum untuk pendaki pemula karena murah dan tahan banting. Bahannya busa, jadi tidak takut bocor, tidak ribet perawatan, dan masih aman dipakai di medan kasar.
Kalau kamu sering camping santai atau butuh matras cadangan yang “gak rewel”, tipe ini biasanya jadi opsi paling masuk akal. Kekurangannya ada di kenyamanan dan suhu. Isolasinya standar, jadi masih cukup membantu menahan dingin dari tanah, tapi tidak sebaik matras yang memang dirancang untuk temperatur rendah.
Selain itu, kurang empuk, jadi buat kamu yang gampang pegal atau tidur miring, biasanya terasa keras. Solusinya bisa ditambah alas tipis lain atau cari spot tidur yang lebih rata.
Baca Juga: 6 Gunung untuk Pemula di Jawa Barat dengan Jalur Ringan
2. Matras Aluminium Foil
Matras aluminium foil sering dipilih karena ringan, tipis, dan gampang dibawa, tapi tetap punya fungsi penting: memantulkan panas tubuh supaya kamu tidak cepat kehilangan suhu saat tidur di permukaan dingin.
Karena bentuknya simpel dan biasanya lebih murah, matras ini cocok buat kamu yang butuh solusi praktis untuk mengurangi rasa dingin dari tanah. Kekurangannya, karena tipis, kenyamanannya terbatas.
Batu kecil atau permukaan tidak rata masih terasa, dan bantalan hampir tidak ada. Itu sebabnya matras aluminium foil paling ideal dipakai sebagai layer tambahan, misalnya diletakkan di bawah matras utama (foam atau inflatable) untuk menambah insulasi dan membantu tidur lebih hangat tanpa menambah beban terlalu banyak.
3. Matras Angin
Matras angin (inflatable sleeping pad) adalah pilihan yang paling empuk untuk tidur di gunung karena bantalan udaranya bisa “ngangkat” tubuh dari permukaan keras dan rata-rata lebih nyaman buat pinggul dan bahu.
Kelebihan lainnya, isolasinya biasanya lebih baik dibanding matras tipis karena ada jarak antara tubuh kamu dan tanah dingin, jadi tidur bisa lebih hangat dan kualitas recovery lebih bagus.
Kekurangan matras jenis ini adalah gampang bocor, jadi perlu perawatan ekstra dan pemaika yang hati-hati. Gak cuman itu, kamu juga perlu waktu untuk mengembangkannya, kurang praktis daripada jenis matras sebelumnya.
Baca Juga: Exercise Pendaki Gunung yang Menguatkan Kaki dan Core
4. Matras Telur (Egg Crate Foam)
Matras telur adalah matras gunung dari busa dengan permukaan bergelombang seperti telur. Jenis ini populer karena ringan, murah, dan simpel. Bentuknya juga tahan di berbagai medan, jadi aman dipakai dan gak perlu takut bocor seperti matras tiup.
Matras telur ini wet, cepat kering, dan masih bisa dipakai walau kena batu atau duri. Cuman kekurangannya kurang empuk daripada matras angin dan isolasinya tidak cukup baik. Jadi untuk kamu yang gampang pegal atau camping di suhu dingin, matras ini bisa terasa kurang nyaman.
Cara Memilih Matras Gunung yang Tepat
1. Perhatikan Ketebalan Matras
Ketebalan matras gunung itu penentu utama nyaman atau tidaknya kamu tidur. Secara umum, semakin tebal matras, semakin nyaman karena lebih mampu menahan tekanan dari batu, akar, atau permukaan tanah yang keras.
Kalau kamu mengutamakan kenyamanan (atau mudah pegal), pilih matras yang lebih tebal. Sebaliknya, kalau kamu fokus ringan dan ringkas, matras yang lebih tipis biasanya lebih praktis dibawa.
Baca Juga: 10 Perlengkapan Mendaki Gunung yang Wajib Dibawa Pemula
2. Sesuaikan dengan Medan & Cuaca
Saat memilih matras gunung, hal paling penting adalah menyesuaikan dengan medan dan cuaca, karena ini yang menentukan kenyamanan tidur dan ketahanan badan kamu besoknya.
Untuk gunung tinggi, suhu malam biasanya jauh lebih dingin dan angin lebih kuat, jadi kamu butuh matras yang lebih tebal/lebih insulating agar dingin dari tanah tidak “naik” ke tubuh. Sementara untuk lowland atau jalur yang cenderung hangat, kamu bisa pilih matras yang lebih tipis dan ringan supaya beban carrier tetap efisien.
3. Berat dan Ukuran Packing
Berat dan ukuran matras saat dilipat adalah faktor besar karena langsung ngaruh ke packing efficiency. Seberapa hemat ruang dan seberapa ringan beban yang kamu bawa. Kalau kamu tipe yang sering trekking jauh atau naik turun jalur panjang, matras yang ringan dan ringkas biasanya lebih nyaman dibawa.
Sebaliknya, kalau perjalanan kamu lebih santai atau jarak pendek, kamu bisa lebih fleksibel memilih matras yang ukurannya agak besar demi tidur lebih enak. Matras tipis dan super ringkas memang enak untuk carrier, tapi bisa terasa keras dan bikin tidur kurang berkualitas.
Kombinasi Matras yang digunakan Pendaki
| Kombinasi | Urutan Layer (bawah → atas) | Paling Cocok Untuk | Pro Tips |
|---|---|---|---|
| Foam + Aluminium Foil | Aluminium foil (reflective) → Foam |
|
|
| Inflatable + Foam Tipis | Foam tipis → Inflatable |
|
|
| Double Layer (Gunung Dingin) | Foam tebal / closed-cell → Inflatable / self-inflating |
|
|
Ciri-ciri Matras yang Sudah Tidak Layak Pakai
Matras gunung yang tepat itu bukan soal empuk doang, tapi soal insulasi, daya tahan, dan kondisi fisiknya. Kalau matras kamu sudah rusak, kualitas tidur turun, badan cepat kedinginan, dan risiko masuk angin atau kelelahan saat summit makin besar.
Jadi sebelum memilih atau memutuskan “masih layak dipakai atau tidak”, kamu perlu cek tanda-tanda kerusakan yang sering tidak kelihatan dari jauh. Ciri-ciri matras yang sudah tidak layak pakai biasanya mulai dari kempes, ada sobek kecil yang tak terlihat, insulasi menurun, dan muncul bau lembab/jamur yang susah hilang.
Kalau salah satu ini sudah parah, lebih aman ganti. Karena matras yang gagal fungsi biasanya bikin kamu “bayar” mahal lewat kondisi badan di gunung.
Rekomendasi Matras Tiup Berkualitas
Sudah Tau Mau Beli Matras Gunung yang Mana?
Matras adalah alat penting buat survival dan recovery. Di gunung, panas tubuh sering hilang lewat kontak langsung dengan tanah. Matras jadi penghalang supaya badan kamu tetap hangat, tidur lebih nyenyak, dan otot bisa pulih buat jalur besoknya.
Kalau salah pilih, efeknya parah, tidur tersiksa, badan pegal, gampang kedinginan, dan tubuh kurang bugar. Kamu jadi lebih cepat capek, fokus berkurang, dan risiko salah langkah makin tinggi. Anggaplah membeli matras merupakan investasi untuk keselamatan dan kenyamanan selama berkegiatan di alam bebas.
