Daftar Isi
Banyak orang mengira sejarah angkat besi dimulai ketika olahraga ini masuk Olimpiade dan langsung menggunakan snatch serta clean and jerk. Faktanya, saat debut di Athena 1896, pertandingan masih menggunakan angkatan satu tangan dan dua tangan.
Sejak itu, angkat besi mengalami banyak perubahan, mulai dari penerapan kelas berat, perubahan jenis angkatan, penghapusan press, hingga masuknya nomor putri di Olimpiade Sydney 2000. Perjalanan panjang inilah yang kemudian membentuk format weightlifting modern seperti yang dikenal sekarang.
Lalu, siapa tokoh di balik perkembangannya, di mana perubahan penting terjadi, dan bagaimana sejarahnya sampai ke Indonesia? Yuk, telusuri perjalanan sejarah angkat besi dari Athena 1896 hingga lahirnya para lifter Indonesia di panggung dunia.
[[svrg_takeaways]]
title: Poin Penting:
- Sejarah angkat besi| dimulai sebelum format modern dengan snatch dan clean and jerk dikenal luas
- Olimpiade Athena 1896| mempertandingkan angkatan satu tangan dan dua tangan sebagai bagian kompetisi angkat besi
- Angkat besi| berkembang melalui perubahan kelas berat, jenis angkatan, aturan, serta masuknya nomor putri
- Perjalanan angkat besi| melahirkan atlet Indonesia seperti Eko Yuli Irawan dan Rizki Juniansyah di Olimpiade
[[/svrg_takeaways]]
Apa Itu Angkat Besi?
Angkat besi atau weightlifting adalah cabang olahraga yang menguji kemampuan atlet mengangkat barbel dengan teknik dan aturan tertentu. Dalam format internasional modern, terdapat dua jenis angkatan utama:
- Snatch
- Clean and jerk
Atlet melakukan beberapa percobaan pada masing-masing jenis angkatan. Beban terbaik dari snatch dan clean and jerk kemudian dijumlahkan untuk menghasilkan total angkatan.
Pemenang ditentukan berdasarkan total angkatan tertinggi dalam kategori berat badan yang diikuti.
Karena itu, angkat besi bukan sekadar persoalan siapa yang mampu mengangkat beban paling berat. Atlet juga membutuhkan kekuatan, kecepatan, koordinasi, keseimbangan, mobilitas, teknik, serta kemampuan mengontrol tubuh ketika menerima beban.
Sejarah Angkat Besi dari Masa ke Masa
1. Abad ke-19: Awal Munculnya Kompetisi Kekuatan
Pada pertengahan abad ke-19, aktivitas mengangkat beban mulai populer sebagai latihan fisik dan pertunjukan kekuatan. Aktivitas tersebut kemudian berkembang menjadi kompetisi yang lebih terorganisasi di Eropa.
Pada 31 Mei 1891 di London, Inggris, Levy Lawrence Edward memenangkan kompetisi internasional yang diikuti tujuh atlet dari enam negara. Ia memperoleh gelar Amateur Champion Weightlifter of the World.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa angkat besi sudah menjadi kompetisi internasional sebelum masuk Olimpiade. Pada periode yang sama, organisasi nasional untuk olahraga angkat besi mulai berkembang di Eropa.
2. Angkat Besi Masuk Olimpiade Athena 1896
Tonggak penting terjadi pada 6–15 April 1896 di Athena, Yunani. Angkat besi menjadi salah satu cabang olahraga pada Olimpiade modern pertama.
Kompetisi berlangsung di Panathenaic Stadium dan diikuti tujuh atlet dari lima negara. Saat itu, belum ada pembagian kelas berdasarkan berat badan atlet.
Terdapat dua nomor, yaitu one-hand lift dan two-hand lift. Launceston Elliot memenangkan nomor satu tangan dengan 71 kg, sedangkan Viggo Jensen menang pada nomor dua tangan dengan 111,5 kg.
3. Berdirinya Federasi Internasional di Duisburg
Perkembangan kompetisi internasional membutuhkan organisasi dengan aturan yang lebih seragam. Karena itu, organisasi internasional mulai dibentuk untuk mengatur olahraga angkat besi.
Pada 10 Juni 1905 di Duisburg, Jerman, organisasi pendahulu IWF didirikan dengan nama Amateur-Athleten-Weltunion. Organisasi tersebut awalnya juga menaungi olahraga gulat.
Pada 1920, organisasi ini menggunakan nama Fédération Internationale Haltérophile (FIH). Nama International Weightlifting Federation (IWF) kemudian digunakan antara 1972 dan 1976.
4. Barbel dengan Piringan Diperkenalkan pada 1912
Peralatan angkat besi juga mengalami perkembangan pada awal abad ke-20. Salah satunya adalah penggunaan barbel dengan piringan dalam berbagai ukuran.
Pada 10 Juli 1912 di Frankfurt, Jerman, perusahaan Kaspar Berg memperkenalkan piringan 20, 15, 10, 5, 2,5, dan 1,25 kg. Barbel dengan mekanisme yang dapat berputar juga mulai diperkenalkan.
Perubahan tersebut membuat beban dapat disesuaikan dengan lebih presisi. Sistem piringan inilah yang kemudian menjadi dasar perkembangan peralatan weightlifting modern.
5. Kelas Berat Mulai Distandardisasi
Pada 1913, organisasi internasional mulai memperkenalkan kategori berdasarkan berat badan atlet. Sebelumnya, atlet dengan ukuran tubuh berbeda dapat bertanding dalam kelompok yang sama.
Lima kategori tersebut adalah featherweight hingga 60 kg, lightweight 67,5 kg, middleweight 75 kg, dan light-heavyweight 82,5 kg. Kategori terakhir adalah heavyweight dengan berat di atas 82,5 kg.
Penerapan kelas berat membuat kompetisi menjadi lebih terstruktur. Sistem ini juga menjadi dasar bagi perkembangan kategori berat badan pada periode berikutnya.
Baca juga: Apa Itu Powerlifting? ini Manfaat dan Jenis Latihannya
6. Sistem Kompetisi Semakin Terstruktur pada 1920
Pada Olimpiade Antwerpen 1920, angkat besi menggunakan lima kelas berat. Kategorinya adalah 60 kg, 67,5 kg, 75 kg, 82,5 kg, dan di atas 82,5 kg.
Pada tahun yang sama, organisasi internasional menggunakan nama Fédération Internationale Haltérophile (FIH). Perubahan ini memperkuat standardisasi kompetisi internasional.
Penggunaan kelas berat membuat pertandingan lebih terorganisasi. Sistem tersebut kemudian terus berkembang mengikuti perubahan aturan weightlifting.
7. Tiga Angkatan Menjadi Program Utama pada 1928
Pada Olimpiade Amsterdam 1928, format pertandingan mengalami perubahan penting. Gerakan satu tangan tidak lagi digunakan dalam program utama.
Kompetisi kemudian menggunakan tiga jenis angkatan, yaitu press, snatch, dan clean and jerk. Ketiganya dilakukan menggunakan kedua tangan.
Berbeda dari pertandingan modern, press masih menjadi bagian resmi kompetisi pada periode tersebut. Format tiga angkatan ini bertahan hingga press akhirnya dihapus pada 1972.
8. Daftar Rekor Dunia Mulai Dibakukan pada 1925
Pada Maret 1925, FIH menerbitkan daftar resmi pertama rekor dunia. Daftar tersebut mencakup hasil yang ditarik kembali hingga tahun 1922.
Daftar rekor menggunakan lima kategori berat, yaitu 60 kg, 67,5 kg, 75 kg, 82,5 kg, dan +82,5 kg. Berbagai nomor seperti snatch, clean and jerk, dan press dicatat dalam daftar tersebut.
Salah satu atlet penting pada era ini adalah Charles Rigoulot dari Prancis. Ia tercatat mampu melakukan two-hand clean and jerk seberat 160,5 kg.
9. Press Dihapus dari Pertandingan pada 1972
Perubahan besar terjadi pada Olimpiade Munich 1972 di Jerman. Saat itu, press masih menjadi salah satu dari tiga nomor pertandingan.
Proposal penghapusan press sebelumnya dibahas di Tokyo 1964 dan Mexico City 1968. Pada 1972, keputusan akhirnya disetujui dengan suara 33 delegasi mendukung dan 13 menolak.
Mulai 1973, press tidak lagi menjadi bagian kompetisi resmi IWF dan Olimpiade. Sejak saat itu, pertandingan menggunakan dua gerakan utama, yaitu snatch dan clean and jerk.
10. Angkat Besi Putri Masuk Olimpiade pada 2000
Tonggak penting berikutnya terjadi pada Olimpiade Sydney 2000, Australia. Untuk pertama kalinya, angkat besi putri masuk dalam program Olimpiade.
Kompetisi berlangsung pada 16–26 September 2000 dan diikuti 85 atlet dari 47 negara. Peristiwa ini membuka panggung Olimpiade bagi atlet putri dalam cabang angkat besi.
Bagi Indonesia, Sydney 2000 juga menjadi momen penting dalam sejarah angkat besi putri. Sri Indriyani tampil dalam kompetisi tersebut dan meraih medali perunggu kelas terbang putri.
Sejarah Angkat Besi Indonesia
Angkat besi Indonesia pertama kali tampil di Olimpiade pada Helsinki 1952 melalui Ging Hwie Thio, yang menempati posisi kedelapan kelas ringan putra. Sejak debut tersebut, Indonesia mulai konsisten mengirim lifter ke berbagai ajang internasional dan membangun tradisi prestasi di cabang angkat besi.
Sejak saat itu, Indonesia terus melahirkan lifter berprestasi di panggung internasional dan Olimpiade. Perjalanan tersebut mencapai puncaknya pada Paris 2024 ketika Rizki Juniansyah meraih emas dan mencatat sejarah sebagai lifter Indonesia pertama yang memenangkan emas Olimpiade.
Prestasi Atlet Angkat Besi Indonesia
|
Atlet |
Prestasi Olimpiade |
|
Sri Indriyani |
🥉 Perunggu, Sydney 2000 |
|
Lisa Rumbewas |
🥈 Perak, Sydney 2000 dan Athena 2004; 🥉 Perunggu, Beijing 2008 |
|
Eko Yuli Irawan |
🥉 Perunggu, Beijing 2008 dan London 2012; 🥈 Perak, Rio 2016 dan Tokyo 2020 |
|
Triyatno |
🥈 Perak, London 2012 |
|
Sri Wahyuni Agustiani |
🥈 Perak, Rio 2016 |
|
Citra Febrianti |
🥈 Perak, London 2012 |
|
Windy Cantika Aisah |
🥉 Perunggu, Tokyo 2020 |
|
Rahmat Erwin Abdullah |
🥉 Perunggu, Tokyo 2020 |
|
Rizki Juniansyah |
🥇 Emas, Paris 2024, kelas 73 kg |
Baca juga: 10 Atlet Angkat Beban Indonesia Berprestasi dan Profilnya
Perkembangan Sejarah Angkat Besi Saat Ini
Dalam kompetisi weightlifting, atlet bertanding melalui dua jenis angkatan utama, yaitu snatch serta clean and jerk. Keduanya dilakukan dalam kelas berat tertentu agar kompetisi berlangsung berdasarkan kategori berat badan yang telah ditetapkan.
Kelas berat weightlifting terus berubah mengikuti perkembangan regulasi kompetisi internasional. Mulai 1 Agustus 2026, IWF menetapkan delapan kategori berat untuk putra dan delapan kategori untuk putri pada kompetisi senior dan junior.
|
Putra |
Batas Berat |
Putri |
Batas Berat |
|
60 kg |
≤60 kg |
49 kg |
≤49 kg |
|
65 kg |
≤65 kg |
53 kg |
≤53 kg |
|
70 kg |
≤70 kg |
57 kg |
≤57 kg |
|
75 kg |
≤75 kg |
61 kg |
≤61 kg |
|
85 kg |
≤85 kg |
69 kg |
≤69 kg |
|
95 kg |
≤95 kg |
77 kg |
≤77 kg |
|
110 kg |
≤110 kg |
86 kg |
≤86 kg |
|
+110 kg |
>110 kg |
+86 kg |
>86 kg |
Kenali Sejarahnya, Mulai Latihan Angkat Besi dengan Tepat
Sejarah angkat besi menunjukkan bagaimana olahraga ini berkembang dari kompetisi kekuatan menjadi cabang olahraga dengan teknik, aturan, dan standar internasional. Perubahan tersebut juga membentuk dua gerakan utama yang dikenal dalam weightlifting modern, yaitu snatch dan clean and jerk.
Jika ingin mulai berlatih, memahami teknik tetap menjadi dasar sebelum mengejar beban yang lebih berat. Prosesnya membutuhkan latihan bertahap, konsistensi, serta perlengkapan yang nyaman dan sesuai agar kamu dapat berlatih dengan lebih aman.
Untuk mendukung proses tersebut, kamu bisa mengeksplorasi koleksi perlengkapan weightlifting terbaik dari SVRG. Pilih perlengkapan yang sesuai dengan kebutuhan latihanmu dan jadikan setiap sesi sebagai bagian dari proses membangun kekuatan.
[[svrg_faq]]
title: FAQ Sejarah Angkat Besi
- q; Kapan angkat besi pertama kali masuk Olimpiade?
a: Angkat besi pertama kali masuk Olimpiade modern pada 1896 di Athena, Yunani. Saat itu, kompetisi masih mempertandingkan dua nomor, yaitu angkatan satu tangan dan dua tangan.
- q: Kapan federasi internasional angkat besi didirikan?
a: Organisasi pendahulu IWF didirikan pada 10 Juni 1905 di Duisburg, Jerman. Organisasi tersebut kemudian berkembang menjadi badan internasional yang mengatur kompetisi dan regulasi weightlifting.
- q; Kapan press dihapus dari pertandingan angkat besi?
a: Press resmi dihapus dari kompetisi IWF mulai 1973 setelah keputusan tersebut disepakati pada 1972 di Munich. Sejak itu, pertandingan internasional menggunakan dua gerakan utama, yaitu snatch dan clean and jerk.
- q: Kapan angkat besi putri masuk Olimpiade?
a: Angkat besi putri pertama kali dipertandingkan pada Olimpiade Sydney 2000. Kompetisi tersebut diikuti 85 atlet dari 47 negara dan menjadi tonggak penting bagi perkembangan weightlifting putri.
- q: Siapa atlet Indonesia yang meraih emas Olimpiade dari angkat besi?
a: Rizki Juniansyah menjadi lifter Indonesia pertama yang meraih emas Olimpiade dalam cabang angkat besi. Ia memenangkan kelas 73 kg putra di Paris 2024 dengan total angkatan 354 kg.
[[/svrg_faq]]
Kenapa Pilih SVRG?
Benefit yang mendukung pengalaman belanja dan latihan bersama SVRG.

