Daftar Isi
Banyak orang menganggap menurunkan berat badan berarti harus lebih sering cardio dan mengurangi makan sebanyak mungkin. Padahal, strength training untuk menurunkan berat badan juga penting, terutama untuk membantu mempertahankan massa otot ketika kamu berada dalam calorie deficit.
Bayangkan berat badan kamu memang turun, tetapi kekuatan dan kemampuan fisik ikut menurun selama prosesnya. Strength training memberikan stimulus pada otot sehingga program weight loss tidak hanya berfokus pada angka timbangan, tetapi juga membantu mempertahankan fungsi tubuh.
Tentu saja, latihan kekuatan saat asupan energi sedang dibatasi membutuhkan strategi yang tepat. Yuk, pahami alasan strength training penting, cara mengaturnya, frekuensi latihan, dan tips menjaga massa otot selama weight loss.
[[svrg_takeaways]]
title: Poin Penting Artikel:
- Strength training| membantu mempertahankan massa otot selama proses penurunan berat badan dan calorie deficit
- Weight loss| tidak hanya berfokus pada angka timbangan, tetapi juga perubahan komposisi tubuh
- Volume, intensitas, dan recovery| perlu disesuaikan agar latihan tetap efektif selama calorie deficit
- Strength training dan cardio| dapat dikombinasikan untuk mendukung kebugaran serta weight management jangka panjang
[[/svrg_takeaways]]
Mengapa Strength Training Penting Saat Menurunkan Berat Badan?
Ketika berat badan diturunkan melalui calorie deficit, tubuh menggunakan cadangan energi untuk memenuhi kebutuhan harian. Proses ini dapat memengaruhi berbagai komponen tubuh, sehingga mempertahankan massa otot menjadi perhatian penting.
Strength training memberikan stimulus melalui latihan dengan beban atau resistance untuk membantu mempertahankan jaringan otot selama weight loss. Latihan seperti mengangkat, mendorong, menarik, atau menahan beban juga membuat otot tetap mendapatkan tuntutan kerja.
Selain menjaga massa otot, latihan kekuatan membantu mempertahankan kemampuan fisik selama proses penurunan berat badan. Mempertahankan massa bebas lemak juga dapat membantu mendukung komposisi tubuh yang lebih baik.
Baca juga: Strength Training untuk Menjaga Massa Otot dan Kebugaran
Cara Strength Training Membantu Weight Management
1. Mempertahankan Massa Bebas Lemak
Massa bebas lemak mencakup berbagai jaringan tubuh selain lemak, termasuk massa otot. Dalam proses calorie deficit, strength training dapat memberikan stimulus yang membantu mempertahankan massa otot.
Hal ini membuat latihan kekuatan relevan bagi kamu yang ingin menurunkan berat badan tanpa mengabaikan komposisi tubuh.
2. Mendukung Pengeluaran Energi
Strength training membutuhkan energi karena tubuh harus melakukan berbagai gerakan melawan beban atau resistance. Karena itu, latihan ini berkontribusi terhadap total pengeluaran energi harian.
Meski demikian, jangan menganggap latihan kekuatan sebagai cara untuk menentukan jumlah kalori yang pasti terbakar. Pengeluaran energi dipengaruhi oleh jenis latihan, durasi, intensitas, kondisi tubuh, dan aktivitas harian.
3. Membantu Mempertahankan Kemampuan Fisik
Berat badan yang lebih rendah belum tentu berarti kemampuan fisik otomatis meningkat. Jika kamu kehilangan kekuatan secara signifikan selama proses tersebut, aktivitas seperti mengangkat barang, menaiki tangga, atau melakukan latihan tertentu dapat terasa lebih sulit.
Mempertahankan latihan kekuatan membantu kamu tetap memberikan tuntutan pada kemampuan fisik tersebut.
4. Mendukung Hasil Penurunan Berat Badan Jangka Panjang
Weight management bukan hanya tentang mencapai angka tertentu lalu berhenti berolahraga. Kebiasaan strength training yang realistis dapat menjadi bagian dari rutinitas aktivitas fisik setelah fase penurunan berat badan selesai.
Dengan begitu, fokusnya bergeser dari sekadar “berat badan harus turun” menjadi membangun pola aktivitas yang dapat dipertahankan dalam jangka panjang.
Baca juga: 7 Manfaat Latihan Kekuatan Otot untuk Kesehatan & Performa
Cara Melakukan Strength Training Saat Calorie Deficit
1. Pertahankan Latihan secara Konsisten
Ketika sedang calorie deficit, kamu tidak perlu membuat program latihan yang ekstrem. Pertahankan rutinitas yang realistis agar latihan dapat dilakukan secara konsisten.
Frekuensi latihan dapat disesuaikan dengan pengalaman, jadwal, kondisi tubuh, dan kemampuan recovery. Konsistensi latihan lebih penting daripada memaksakan sesi yang terlalu berat.
2. Sesuaikan Volume dan Intensitas
Calorie deficit dapat membuat kapasitas recovery terasa berbeda dari biasanya. Jika mulai mengalami kelelahan atau performa terus menurun, volume latihan mungkin perlu disesuaikan.
Intensitas juga perlu disesuaikan dengan kemampuan tubuh saat itu. Tidak semua sesi harus dilakukan secara maksimal untuk tetap memberikan stimulus latihan.
3. Prioritaskan Gerakan Compound
Gerakan compound seperti squat, row, press, deadlift variation, dan pull-up melibatkan beberapa kelompok otot dalam satu gerakan. Pilihan ini dapat membuat sesi latihan lebih efisien ketika waktu atau energi kamu terbatas.
Tetap pilih gerakan yang sesuai dengan kemampuan dan tujuan latihan. Kamu tidak perlu memasukkan terlalu banyak gerakan hanya untuk membuat sesi terasa lebih berat.
4. Gunakan Beban yang Masih Dapat Dikontrol
Beban yang lebih berat tidak otomatis menghasilkan latihan yang lebih baik. Saat calorie deficit, prioritaskan teknik, kontrol gerakan, dan kemampuan menyelesaikan repetisi dengan bentuk yang baik.
Jika teknik mulai berantakan, pertimbangkan untuk menyesuaikan beban atau volume latihan. Pendekatan ini membantu kamu tetap berlatih dengan kualitas gerakan yang terjaga.
5. Berikan Waktu Recovery yang Cukup
Recovery merupakan bagian penting dari program latihan, terutama ketika tubuh sedang menerima energi yang lebih sedikit. Berikan waktu istirahat yang cukup di antara sesi latihan dan perhatikan kualitas tidur.
Jika rasa lelah terus menumpuk, jangan abaikan perubahan pada performa latihan. Program latihan mungkin perlu dievaluasi dan disesuaikan dengan kondisi tubuh.
Baca juga: Cara Memilih Latihan untuk Membentuk Otot Secara Efektif
Berapa Kali Strength Training Saat Menurunkan Berat Badan?
Saat menurunkan berat badan, frekuensi strength training perlu disesuaikan dengan kemampuan tubuh untuk beradaptasi dan melakukan recovery. Berikut adalah beberapa hal yang dapat kamu pertimbangkan untuk menentukan frekuensi latihan yang sesuai:
|
Fokus |
Rekomendasi Spesifik |
Hal yang Perlu Diperhatikan |
|
Frekuensi untuk pemula |
Mulai 2–3 sesi strength training per minggu dengan jeda istirahat di antaranya. |
Pilih jadwal yang realistis, lalu evaluasi energi, rasa lelah, dan performa sebelum menambah frekuensi. |
|
Pembagian latihan |
Gunakan full body 2–3 kali per minggu atau upper-lower split jika tersedia 4 sesi per minggu. |
Full body lebih praktis untuk pemula karena beberapa kelompok otot dapat dilatih dalam satu sesi. |
|
Strength training + cardio |
Kombinasikan 2–4 sesi strength training dengan cardio sesuai kebutuhan dan kapasitas recovery. |
Atur total beban latihan agar kombinasi keduanya tidak membuat kelelahan menumpuk. |
|
Rest day |
Sisipkan 1–2 hari tanpa strength training dalam satu minggu sesuai frekuensi dan volume latihan. |
Rest day tetap dapat diisi aktivitas ringan jika tubuh terasa siap dan tidak mengganggu recovery. |
Dengan pendekatan tersebut, kamu dapat membangun jadwal latihan yang cukup konsisten tanpa memaksakan volume berlebihan. Jadikan respons tubuh dan performa latihan sebagai acuan untuk mempertahankan atau menyesuaikan frekuensi selama proses weight loss.
Baca juga: Berapa Frekuensi Latihan untuk Muscle Gain dalam Seminggu?
Tips Menjaga Massa Otot Selama Weight Loss
Menjaga massa otot selama weight loss membutuhkan pendekatan yang konsisten, bukan sekadar mengurangi asupan makanan. Berikut beberapa tips yang dapat mendukung proses penurunan berat badan:
- Fokus pada penurunan berat badan bertahap untuk menjaga program tetap realistis dan konsisten dalam jangka panjang.
- Prioritaskan protein dan latihan kekuatan untuk membantu mempertahankan massa otot selama proses penurunan berat badan.
- Jangan mengabaikan recovery dan tidur untuk mendukung pemulihan tubuh setelah menerima stimulus latihan secara rutin.
- Pantau performa latihan selain berat badan untuk melihat perubahan kemampuan fisik selama proses weight loss.
- Sesuaikan program berdasarkan perkembangan agar latihan tetap sesuai dengan energi, performa, jadwal, dan kemampuan recovery.
Pertahankan Massa Otot dan Capai Weight Loss Berkelanjutan
Strength training dapat menjadi bagian penting dari strategi weight loss karena memberikan stimulus pada otot sekaligus membantu mempertahankan kemampuan fisik selama calorie deficit. Jadi, proses menurunkan berat badan tidak harus hanya berpusat pada angka timbangan.
Kuncinya adalah membangun rutinitas yang realistis, menjaga kualitas latihan, memberikan waktu recovery, dan mengevaluasi perkembangan secara berkala. Perlengkapan yang sesuai juga dapat membuat sesi latihan terasa lebih nyaman dan mendukung konsistensi.
Untuk melengkapi kebutuhan latihan kekuatan di rumah maupun gym, kamu bisa mengeksplorasi berbagai pilihan perlengkapan weight training dari SVRG sesuai kebutuhan rutinitasmu.
[[svrg_faq]]
title: FAQ Seputar Mengapa Strength Training Penting Saat Menurunkan Badan
- q; Apakah strength training bisa membantu menurunkan berat badan?
a: Ya, strength training dapat mendukung penurunan berat badan sebagai bagian dari pengaturan asupan energi dan aktivitas fisik. Latihan ini juga membantu mempertahankan massa otot selama weight loss.
- q: Berapa kali strength training dalam seminggu untuk menurunkan berat badan?
a: Pemula dapat memulai dengan 2–3 sesi per minggu sesuai kemampuan recovery. Frekuensinya dapat disesuaikan berdasarkan respons tubuh dan performa latihan.
- q; Apakah strength training bisa mencegah kehilangan massa otot saat diet?
a: Strength training memberikan stimulus yang membantu mempertahankan massa otot selama calorie deficit. Asupan protein dan recovery juga berperan dalam proses tersebut.
- q: Apakah harus cardio jika sudah melakukan strength training?
a: Tidak harus, karena cardio dan strength training memiliki fokus yang berbeda. Keduanya dapat dikombinasikan sesuai tujuan, aktivitas, dan kemampuan recovery.
- q: Apakah boleh melakukan strength training saat calorie deficit?
a: Boleh, selama latihan disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan recovery. Jika energi atau performa menurun, volume dan intensitas latihan dapat disesuaikan.
[[/svrg_faq]]
Kenapa Pilih SVRG?
Benefit yang mendukung pengalaman belanja dan latihan bersama SVRG.

