BerandaCommercial BlogStudio Pilates
Studio Pilates

4 Kendala Bisnis Studio Pilates dan Solusinya

Diperbarui: 04/06/2026 Diterbitkan: 04/06/2026
Ditulis oleh The Republic of Svarga
4 Kendala Bisnis Studio Pilates dan Solusinya

Membuka studio Pilates tidak berarti bisnis akan langsung profit sesuai ekspektasi. Banyak owner terlalu fokus pada tahap awal, tetapi belum siap menghadapi tantangan operasional sehari-hari. 

Mengurus kelas,  atur jadwal instruktur, menentukan harga, hingga mempertahankan member adalah daily to do yang harus dijalani oleh bisnis owner. Untungnya, kendala tersebut bisa Anda atasi dengan membangun sistem bisnis yang jelas dari awal.

Artikel ini akan membahas empat tantangan yang paling sering dihadapi Pilates studio, lengkap dengan cara mengatasinya agar bisnis dapat berjalan lebih stabil, efisien, dan berkelanjutan.

Key Business Point

Keberhasilan dan keberlanjutan bisnis studio Pilates sangat bergantung pada kemampuan manajemen dalam mengatasi kendala utama di sektor akuisisi member dan utilisasi studio.

Kenapa Banyak Studio Pilates Sulit Berkembang?

Banyak studio Pilates sulit berkembang karena sistem bisnisnya belum cukup kuat. Persaingan makin ketat, biaya operasional tidak kecil, perilaku konsumen terus berubah, dan revenue sering terlalu bergantung pada member aktif yang datang secara rutin. 

Jika studio hanya fokus membuka kelas tanpa mengatur pricing, retention, kapasitas ruangan, pengalaman member, dan strategi pemasaran, pertumbuhan bisnis akan mudah tertahan. 

Karena itu, sebelum membahas cara membuat studio Pilates lebih profitable, Anda perlu memahami dulu empat kendala utama yang sering membuat bisnis studio Pilates sulit naik level. 

Baca Juga: Cara Membuka Pilates Studio dari Nol sampai Profit

Kendala Bisnis Studio Pilates yang Harus Diketahui Bisnis Owner

1. Sulit Mendapatkan Member Baru

Salah satu kendala terbesar dalam bisnis studio Pilates adalah sulit mendapatkan member baru secara konsisten. Banyak studio masih mengandalkan word of mouth tanpa strategi digital marketing yang jelas, sehingga pertumbuhan lead berjalan lambat dan sulit diprediksi.

Jika brand studio belum dikenal, calon member juga membutuhkan waktu lebih lama untuk percaya dan mencoba kelas. Dampaknya, kelas lebih sering sepi, occupancy rate rendah, dan target revenue sulit tercapai karena jumlah peserta tidak cukup stabil setiap bulan.

Untuk mengatasi masalah ini, business owner perlu membangun sistem customer acquisition yang lebih terukur. Optimasi Google Business Profile penting agar studio mudah ditemukan oleh calon member di area sekitar.

Instagram dan TikTok juga perlu digunakan untuk menampilkan suasana kelas, hasil member, edukasi Pilates, dan promo trial class. Trial class dapat membantu calon member mencoba pengalaman studio sebelum membeli package.

2. Member Datang, Tapi Tidak Bertahan Lama

Masalah ini biasanya muncul karena engagement dengan member lemah, tidak ada program progres yang jelas, dan pengalaman latihan terasa monoton. Akibatnya, member mudah berhenti setelah beberapa sesi, churn rate meningkat, dan pendapatan studio menjadi tidak stabil.

Efek jangka panjangnya membuat biaya akuisisi semakin mahal karena bisnis terus mencari member baru untuk menggantikan member lama yang keluar. Solusinya, Anda perlu membangun sistem member retention yang lebih terarah.

Mulai dari progress tracking agar member bisa melihat perkembangan latihannya, membership loyalty program untuk mendorong repeat purchase, hingga community event atau workshop agar hubungan dengan member tidak berhenti di kelas saja. 

Personal touch dari instruktur juga penting karena member cenderung bertahan lebih lama ketika merasa diperhatikan.

Untuk mengukur efektivitasnya, bisnis owner bisa memantau beberapa KPI utama seperti retention rate, renewal rate, dan average membership duration. Dari metrik ini, studio bisa tahu apakah pengalaman member sudah cukup kuat untuk membangun customer loyalty dan recurring revenue.

3. Biaya Operasional Tinggi

Menjalankan bisnis studio pilates itu artinya Anda harus siap dengan biaya operasional yang tinggi dan margin profit yang mudah tertekan. Penyebabnya bisa datang dari sewa lokasi, biaya maintenance alat pilates, utilitas, payroll instruktur, hingga biaya marketing.

Jika tidak dikontrol, beban operasional ini bisa mengganggu cash flow, memperlambat BEP, dan membuat studio terlihat ramai tapi profitnya tipis. Ini sering terjadi ketika studio hanya fokus mengejar kelas penuh, tetapi tidak menghitung revenue per class, revenue per square meter, dan operating margin secara rutin.

Untuk mengatasi kendala ini, Anda bisa mengoptimalkan jadwal kelas agar setiap slot punya potensi revenue maksimal. Evaluasi biaya operasional secara berkala, terutama sewa, payroll, maintenance, dan biaya akuisisi member. Kemudian pantau perkembangannya.

4. Utilisasi Equipment dan Ruangan Tidak Maksimal

Banyak studio sudah berinvestasi pada reformer machine, mat area, dan perlengkapan pendukung, tetapi slot kelas masih banyak kosong atau hanya ramai di jam tertentu. Penyebabnya bisa datang dari jadwal kelas yang tidak sesuai kebutuhan market, kapasitas ruangan yang belum diatur optimal, atau kurangnya variasi format kelas. 

Akibatnya, ROI equipment menjadi lebih lambat, revenue per machine rendah, dan potensi pendapatan dari ruang studio tidak tergarap penuh. Untuk mengatasinya, bisnis owner perlu melihat studio sebagai aset produktif, bukan sekadar tempat kelas berlangsung.

Tambahkan kelas di jam non-prime time, buat semi-private session untuk meningkatkan revenue per slot, atau sewakan studio untuk workshop, komunitas, dan corporate wellness session. Studio juga bisa mengombinasikan Reformer Pilates dan Mat Pilates agar kapasitas peserta lebih fleksibel dan jadwal lebih mudah diisi.

Baca Juga: Reformer Pilates vs Mat Pilates: Mana yang Menguntungkan?

Strategi Mencegah Kendala Sejak Sebelum Studio Dibuka

Banyak kendala studio Pilates sebenarnya bisa dicegah sebelum studio dibuka, bukan setelah operasional berjalan. Masalah seperti cash flow tersendat, atau lokasi kurang strategis biasanya muncul karena tahap perencanaan terlalu terburu-buru. 

Karena itu, sebelum masuk ke pembelian alat dan renovasi studio, Anda perlu memastikan konsep bisnis, kapasitas pasar, dan proyeksi keuangan sudah dihitung dengan realistis.

  • Lakukan market research untuk memahami demand Pilates di area target, profil calon member, kompetitor, harga kelas, dan preferensi market.

  • Buat business plan yang realistis agar konsep studio, positioning, kapasitas kelas, kebutuhan tim, dan strategi marketing punya arah yang jelas.

  • Hitung BEP dan cash flow sebelum mulai investasi, supaya Anda tahu berapa target member, jumlah kelas, dan revenue minimal yang harus dicapai setiap bulan.

  • Pilih lokasi berdasarkan data, bukan insting, seperti akses, parkir, traffic area, daya beli market, dan kedekatan dengan target audience.

  • Investasi equipment sesuai kapasitas pasar, mulai dari kebutuhan utama dulu, lalu tambah alat secara bertahap ketika demand dan revenue sudah lebih stabil.

Mau Bisnis Pilates Lebih Stabil dan Menguntungkan? Ini yang Perlu Diingat

Pahami dulu bahwa tantangan seperti akuisisi member, jadwal kelas yang belum penuh, biaya operasional, dan utilisasi alat adalah hal yang wajar dalam bisnis studio. Yang membedakan studio sukses dan gagal bukan ada atau tidaknya tantangan.

Tetapi bagaimana pemilik studio mengelolanya dengan sistem yang jelas. Fokus utama perlu diarahkan pada strategi mendapatkan member baru, menjaga retention, mengatur kapasitas kelas, dan memastikan aset digunakan secara maksimal.

Dengan sistem yang tepat, Pilates studio tidak hanya menjadi tempat latihan, tetapi bisa berkembang menjadi bisnis dengan recurring revenue yang menarik dan lebih stabil dalam jangka panjang.

Butuh rekomendasi setup gym sesuai ruangan Anda?

Kirim ukuran ruangan, konsep bisnis, dan target budget. Tim SVRG dapat membantu rekomendasi equipment, layout, dan package yang lebih sesuai.

Konsultasi Commercial Gym